Satu Cerita Tentang Tidak Pernah Kembali

Yang telah hilang, biarlah menghilang

Jangan lagi kau ungkit-ungkit bila tak ingin menumbuhkan rasa sakit

Yang telah pergi, biarkan pergi

Jangan kau cari bila ia kembali maka itulah jalan yang terbaik

 

Kita telah menjalani beberapa hari dengan hening

Berdiam dan berharap benteng siapa yang akan rubuh duluan

Kita terlalu naif untuk saling mengakui

Ada ruang yang sebenarnya kita inginkan untuk selalu dibagi

 

Dan bila kini kamu memilih pergi

Tidak perlu ada yang perlu disesali

Semua telah kembali ke awal

Seolah kita tak pernah saling mengenal.

 

 

-A-

 

Advertisements

Gravitasi

Seperti bola yang telah dilemparkan ke atas, pasti akan kembali lagi ke tanah.

Kalimat diatas pernah aku baca dimana, aku lupa, tetapi di sudut kedai kopi ini aku kembali teringat untaian kata yang entah tertulis dimana itu. Kemudian kalimat itu seakan menghantamku hari ini. Waktu yang telah menyimpan semua dokumen cerita kita, dimuntahkan dengan indahnya semuanya. Seolah sang Waktu memang menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan semua pertahanan yang telah kita bangun.

Kita, ya, aku dan kamu, adalah dua cerita yang memisahkan diri, berjalan ke dua kutub yang berbeda. Aku berjalan ke selatan, sedang kamu memadu langkah ke utara. Badai dan hujan yang ada di depan kita jalani dengan gagah berani tanpa pernah lagi berbagi matahari yang sama. Kita menjalani takdir kita sendiri, dengan pilihan-pilihan yang kita pilih sendiri.

Kita berevolusi, menjadi pribadi yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Tumbuh dari satu insan yang dulunya begini menjadi manusia yang begitu. Kita lupa bahwa kita pernah punya sekeping cerita hingga waktu kemudian menyinggungkan simpul-simpul garis edar kita agar bertabrakan.

Semesta sepertinya sedang bersekutu untuk melakukan tumbukan itu. Kita bertemu di satu persimpangan waktu yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya. Tidak ada ruang untuk melarikan diri. Aku terperangkap disitu, begitupun kamu. Garis edar kita berhenti berotasi seolah meneguhkan bahwa kita tak seharusnya berlari lagi. Bukannya kita sudah terlalu lelah untuk bermain dengan waktu dan rindu? Untuk apalagi kita berkejaran, melawan gravitasi bila akhirnya kita memang seharusnya bersatu?

 

 

-A-

 

 

Aku Merindukan Hal-hal yang Kubenci (2)

“Aku harap suatu hari kamu tidak menyesali keputusanmu ini Del,” kata-katanya terdengar lirih, karena tetes hujan jauh lebih ramai kudengar.

“Dua tahun kamu mengenalku, apa pernah kamu lihat aku menyesal atas keputusanku?” jawabku pura-pura tegar. Aku sadar betul, sebentar lagi air mata akan basah di pipiku. 

“Baiklah, jika memang ini keputusanmu. Aku bisa apa? Dari awal aku sudah mengatakan bahwa apapun keputusanmu pasti akan kuterima. Aku mau kamu bahagia.”

“Ya, terima kasih untuk semuanya. Aku nggak akan lupa semua hal yang sudah kita lewati bersama.” Aku menoleh ke arah wajahnya untuk yang terakhir kali. Memberikan senyum terbaik di saat-saat terakhir.

Aku diam sesaat setelah keluar dari mobil. Kunikmati tetesan air hujan yang bercampur dengan air mataku. Masih sempat pula kusaksikan mobilnya melaju melewatiku.

Pagi itu aku terbangun dengan mata sembab. Semalaman kutangisi perpisahanku. Salah satu hal yang tak pernah kubayangkan akan terjadi sejak aku mengenalnya. 

Aku melangkah gontai, sambil menenteng handuk menuju kamar mandi. Lalu kulihat mama berteriak dan berhambur memelukku sambil mengangis sesenggukan.

“Mama pikir mama kehilangan kamu, Del,” ucapnya sambil tetap menangis dan memelukku.

“Apa sih, Ma? Mama mimpi buruk?” jawabku santai dan polos.

“Mama juga berharap ini mimpi buruk,” jawabnya. Lalu tiba-tiba mama melepas pelukkannya seolah tersadar pada sesuatu.

“Tapi kok kamu di rumah? Mama telpon kamu dari tadi nggak bisa-bisa.”

“Aku belum buka hp dari semalam.”

“Deliaaaaaaa!!!!!” Mama berteriak kencang dan mengguncang bahuku.

“Apaan sih mama pake teriak-teriak,” jawabku semakin bingung.

“Jangan bilang kamu belum tahu!”

Aku mengernyitkan dahi. Semakin bingung dengan ucapan Mama.

“Adeliaaaa…” Mama kembali memelukku dan menangis sejadi-jadinya.

“Mama apaan sih?”

Seketika mama melepas tubuhku dari pelukannya dan berlari menuju ke kamar, mengambil HP-nya lalu memperlihatkan sebuah video padaku. Aku diam, tak sepatah katapun mampu kuucap. Aku tak ingat apa-apa lagi, selain gelap dan suara tangis mama.

Minimnya Jarak Pandang Diduga Jadi Penyebab Utama Kecelakaan Tunggal di Ruas Toll Padjajaran

Hujan Deras Sebabkan Kecelakaan, Pengemudi Tewas Seketika

“Ray, aku rindu berdebat denganmu.”


-S-

Untukmu yang Baru Ku Kenal Kemudian Harus Ku Lepaskan

Kamu selalu berbuat baik kepadaku. Memberi apa yang aku inginkan, mendengarkan ceritaku, mencarikan aku jawaban atas segala pertanyaan, singkatnya, kamu memberikan kenyamanan yang selalu aku rindukan.

Seharusnya kamu tahu bahwa aku bukanlah orang yang dengan mudah jatuh cinta. Apalagi menyerahkan segenap hatiku dengan sukarela kepada orang yang belum aku kenal sebelumnya. Tapi, kamu menggugurkan pertahanan yang aku punya. Kamu masuk ke ruang hatiku hanya dengan satu ketukan halus, tanpa pernah mengucap salam. Kamu datang seperti lentera, menyala saat ruang mulai menampakkan gelap. Mencairkan rindu yang telah lama membeku.

Tetapi, benda berbentuk bundar yang melingkar di jari manismu itu membuatku berhenti untuk terus menikmati segala perhatian darimu. Benda itu akan selalu mengingatkanku bahwa tidak seharusnya aku berada diantara kamu dan dia. Untuk itu, kurasa aku tak perlu lagi mendamba kamu untuk selalu ada untukku. Yang kamu lakukan memang manis, tetapi terlampau sakit bila harus diteruskan. Bila kamu tak bisa mengakhirinya, maka biarkan aku saja.

 

 

 

-A-

Seharusnya Kamu Bahagia

Aku tertunduk membisu, tak punya nyali untuk menegakkan kepalaku. Apalagi jika harus menatap matanya. Aku takut. Takut menghadapi amarahnya, takut melihat luka yang ia derita karena kebodohanku.

“Kamu bahagia?” nada suaranya mulai menurun. 

“Entahlah, aku tidak tahu,” jawabku sambil menahan air mata.

“Bodoh!” ucapnya penuh penekanan.

Tidak ada jawaban yang mampu kuucap. Hanya suara isak tangis yang mampu kukeluarkan.

“Kalau meninggalkanku adalah jalan yang kamu pilih, harusnya itu jalan yang membahagiakanmu. Pergilah, pergilah bersamanya. Dia yang kamu pilih, kan?” 

“Aku mencintaimu,” kataku mantap sambil menggenggam tangannya.

“Aku tahu, tapi kamu juga memilih dia untuk ada di hidupmu, kan? Kamu tahu, aku tak bisa menerima ini. Aku tidak akan menaruh dendam padamu. Jadi, pergilah. Aku tak akan memintamu kembali.”
-S-

Aku Merindukan Hal-hal yang Kubenci

Suara rintik hujan tiba-tiba terdengar, memaksaku melongok ke jendela di depan meja kerjaku. Jalanan sudah basah tersiram air, sesekali langit berkelap-kelip diiringi gemuruh. Mobil-mobil pun berjejer parkir di depan gedung kantorku.

Sepatu dan baju ganti sudah kusiapkan, harusnya hari ini sepulang kantor aku ngegym. Namun hujan dan rentetan deadline yang tiba-tiba datang membuatku belum juga bisa beranjak dari meja kerja. Sungguh hari yang kurang beruntung buatku. 

“Nggak pulang, Del?” tanya Keni, rekan setimku.

“Belum, orderan lagi banyak nih. Padahal lagi pengen ngegym, udah seminggu bolos,” jawabku sambil menggerutu.

“Yauda gue duluan ya. Mau nge-date!” ucapnya sambil tertawa lebar dan berlalu meninggalkanku.

Mendengar ucapannya, aku jadi teringat masa-masa sebelum dua bulan lalu. Bagiku tidak ada namanya lembur. Pulang tepat waktu adalah sebuah kewajiban. Karena aku lebih rela membuang waktu 2 jam dalam kemacetan demi duduk di bangku sebelah supir dan mendengarkan celotehmu. Kemacetan yang sering membuatku stres dan kelelahan kini justru menjadi hal-hal yang aku rindukan. Karena di sana ada kamu. Ada cerita yang kita rangkai bersama.

“Ray, aku rindu.”

– S-

Dia

Hujannya deras. Jalanan macet. Tanggal muda. Jumat malam. How’s perfect day for Jakarta’s traffic!

Setelah meeting dengan klien di daerah Gatot Subroto, aku meminta Pak Kurdi untuk mampir ke FX Sudirman. Sambil nunggu jalanan sedikit lengang, sekalian mau cari kado buat Lupito; sahabatku sejak SMP.

Aku membuka iphone ku dan mencari namanya, Lupis – begitu aku menamai Lupito, ya, karena dia manusia pemakan lupis!

Lupis itu enak, Sasya, kenyal. Dibuatnya penuh perjuangan, kamu harus telatan, masaknya aja bisa berjam-jam. Kamu bayangin deh, kalo lupis itu bercampur dengan gula Jawa cair. Lezaaaat”, cerocosnya panjang lebar.

Kenapa, Sya? Kamu kena macet, terus bosen di jalan dan menelpon aku?”, gerutunya.

“Hahaha, apaan sih, Pis. Sensi banget, lagi mens ya kamu?”

Dih gitu. Kenape? Buruan ngomong, aku mau lanjut meeting nih”

“Jam 8 malam masih aja meeting, nongkronglah sama temen-temen kamu. Rajin amat!”

“Bawel deh, kenape?”

“Lo mau kado apa? Jangan mahal-mahal ya, budget gue cuma 50 ribu rupiah”

“Sial!! Kado aja gue pake lupis kalo budget lo cuma segitu”, sewotnya.

Oke, gue kadoin lupis ya. Fix! Thank you, Lupiiis, selamat meeting!”, buru-buru aku tutup teleponnya, sebelum dia ngomel lagi.

Sesampainya di FX Sudirman, Pak Kurdi menurunkan aku di lobby atas dan dia mencari parkir.

Saya cari parkir dulu ya, neng”, tuturnya.

Aku melangkahkan kaki. Mengganti high heels 4 senti ku dengan flat shoes favorit sejak kuliah. Melepas blazer dan mengikat ekor kuda rambutku.

Rasa lapar dan haus menyerangku, maklum, setelah meeting dengan klien sejak tadi siang, aku belum makan. Camilan yang disediain saat meeting tadi, hanya mampu bertahan sebentar.

Aku putuskan memasuki coffee shop di area depan, dekat lobby aku diturunkan Pak Kurdi. Sudah aku bayangkan roti bakar Srikaya kesukaanku dan segelas es coklat.

“Hi, Mba Sasya! Udah lama gak kelihatan. Lagi sibuk ya, mba? Kucel amat”, sapa ramah Hilmi, waitres coffee shop.

“Hii, Hilmi. Iya nih, makin lama makin gila hidup di Jakarta. Jalanannya makin gak masuk akal. Semoga proyek MTR ini segera selesai”, harapku.

Hahaha. Semoga bisa mengurangi macetnya Jakarta ya, mba. Mau duduk di tempat biasa, mba?”

“Kosong ya? Boleh deh kalo ada”

Hilmi meninggalkan aku dengan buku menu – aku memang memintanya memberikan waktu kepadaku untuk memesan, pengen coba menu baru lainnya.

Saat membolak-balikkan buku untuk memilih menu, mataku terhenti pada sesosok yang aku kenal dengan baik, meski aku hanya melihatnya dari samping.

Pria tegap, dengan tinggi 175 senti, matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, dua lesung pipi dan tawanya yang khas.

“Damn, ngapain dia ada disini? Bukannya dia melanjutkan sekolah di Australi?”, aku bertanya-tanya.

To: Lupis

Message:

Gue nglihat laki-laki itu, Pis. Bukannya dia lagi sekolah di Australi ya? Pleaseeeee, gue kudu gimana nih?

*Message send*

Semenit.

Dua menit.

Lima menit.

Si Lupis tidak membalas pesanku. Dibaca pun tidak. 

“Sial nih bocah, giliran lagi dibutuhin malah ilang”, gerutuku

Aku meraih iphoneku dari dalam tas Salvatore Ferragamo dan memencet nomor Pak Kurdi.

“Halo, Pak Kurdi, bisa tolong jemput saya di lobby depan sekarang, pak?”, pintaku.

Baik, neng”

Sementara itu, aku sibuk membereskan barang-barangku. Buru-buru pengen menghilang dari tempat ini. Sebelum dia menyadari bahwa ini aku.

Tapi.

Oh My God!

Kami bertemu mata. Dia menatapku. Sementara aku sibuk berdoa dalam hati agar dia tidak mendatangiku.

Tolong, jangan disini. Aku mohon.

Aku buru-buru turun.

Tapi.

Langkahku terhenti.

Tanganku seperti ada yang memegang.

Sasya Utania Marcia Sulaiman.

 

-B-