Unsent Message

“Aku tahu Sukma, betapa kamu membenciku, kita pasti akan bersama lagi. Itu yang terjadi di 7 tahun pacaran kita. Pergi dan kembali lagi.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku. Kamu begitu nyata untukku, Fabian. Sama seperti kamu, sejauh kemanapun aku pergi. Dengan siapapun aku bersama. Hanya kamu dan kenangan tentang kita yang ada di kepala dan pikiran kita.

Setiap aku makan bersama dengan laki-laki lain di sekitaran Semanggi, aku teringat cafe kopi di dalam FX, tempat kita pertama kali bertemu.

Begitu pula di Sudirman. Di sebuah kantor tempat kita bertemu ke-2 kalinya, yang ternyata kita satu gedung, berbeda lantai.

Malam ini, ketika aku berjalan di sebuah mall di Kemang, ditengah kerumunan pengunjung mall yang sedang asik berebut barang diskon, tiba-tiba aroma parfum Calvin Klein Eternity for Men menyapa indera penciumanku, sontak aku menarik badanku keluar dari kerumunan orang-orang itu. Kepalaku memberikan kode ke otak untuk berputar mencari kamu. Tapi nihil. Bahkan kamu tetap hanya meninggalkan aromamu.

Aku mencoba mengendalikan diri dan pikiranku. Aku memilih masuk ke cafe di dalam mall itu dan memesan makanan kesukaanku, cesar salad tanpa olive dan air mineral tidak dingin untuk menenangkan pikiranku.

Ini konyol. Setelah aku mengetahui apa yang kamu lakukan dalam hubungan pernikahan kita, aku masih saja menunggumu untuk pulang. Berharap untuk kita tetap bersama. Iya, kita. Aku, kamu dan Sanjaya – putra kita.

Tapi, pikiran sehatku dengan jelas menentangnya.

“Kamu bodoh Sukma, masih saja mengharapkan laki-laki itu kembali. Tidakkah kamu ingat apa yang dia lakukan saat bertemu dengan kalian minggu lalu? Dia bahkan tidak menyapamu sama sekali, hanya asik bermain dengan Sanjaya. Kamu ingat itu, kan? Dia bahkan mengajak wanita itu saat bertemu dengan kalian. Masih berharap dia kembali? Jangan gila!”

Iya, aku menangis malam itu, setelah pertemuan itu. Aku menelpon Andini, sahabatku. Aku menceritakan kejadian itu. Aku berharap mendapat pembelaan, tapi ternyata aku salah. Dia semakin memarahiku.

“Sudahlah Sukma, untuk apa kamu mengharapkannya lagi? Hubungan pernikahan kalian sudah tidak sehat lagi. Dia lebih memilih wanita itu dan meninggalkan kalian. Kamu dan Sanjaya. Ikhlaskan saja. Selesaikan urusan kalian, tinggal menunggu keputusan hakim di sidang terakhir kalian minggu depan, setelah itu mulailah kehidupan yang baru. Aku tahu betapa sakitnya hati kamu, kedongkolan dan keputusasaan kamu selama ini. Tapi aku melihat kamu terus bangkit dan bangun, hingga akhirnya berjalan tegap demi Sanjaya. Dia jauh lebih membutuhkanmu. Usaha butik kamu juga sedang ramai, promosi jabatan kamu juga sedang di proses. Setidaknya, nikmati dulu hidup dan hasil jerih payah kamu. Ingat Sukma, there are a right man in the right time”.

Apa yang Andini bilang benar. Aku harus memantapkan langkahku. Menatap masa depanku dan Sanjaya. Untuk apa aku terus memikirkan dia, yang bahkan tidak mempedulikan kami, setidaknya Sanjaya, anak laki-lakinya.

Ponselku berdering, “Mama dimana? Jaja udah pulang nih, kita jadi ke rumah nenek, kan? Jaja tunggu mama di rumah ya. Bibi udah nyiapin baju berenang buat Jaja bawa, Ma. Mama hati-hati ya”, celotehnya.

“Iya, Jaja. Mama pulang sekarang ya, nak. Jaja tunggu mama ya”, jawabku lembut sembari membayar bill makananku.

Aku menuju ke tempat parkir di ground floor. Aku menuju mobil CX5 sport hitam milikku, mobil yang kubeli dengan hasil jerih payahku sendiri. Aku duduk di dalam dan bersiap untuk pulang, sebelumnya aku mengeluarkan ponselku.

“Aku mengikhlaskanmu, Fabian. Pergilah sejauh mana kamu pergi, tapi aku mohon, jangan pernah kembali ke “rumah”. Aku menutup pintunya untuk kamu pulang. Minggu depan hakim akan membacakan keputusannya. Aku tidak akan membatasi kamu menjenguk Jaja, kamu bebas kapan saja menemuinya. Sampai jumpa di persidangan”

Pesan terkirim.

Derasnya hujan menemani perjalananku pulang menuju rumah. Radio memutarkan lagu favorit kami, aku menikmatinya begitu saja tanpa perasaan. I tried. Aku gunakan fitur voice call dari ponselku dan menelpon Andini.

“Gw mau ke rumah nyokap sama Jaja. Lo mau ikut gak? Kalo mau, gw jemput lo ke rumah, mumpung gw lagi disekitaran Kemang nih. Sekitar 20 menit lagi. Jangan lupa bawain mainan Jaja yang lo beliin buat dia dari Abu Dhabi yak!”, aku nyerocos setelah dia mengangkat teleponnya.

Andini disebrang, “Baik, nyonya. See you 20 minutes again ya! Eiya, ganti tuh radionya. Ntar sampe rumah gw, lo malah baper terus gak jadi pergi. Gw kan mau ketemu Jaja keponakan ganteng gw”, gantian dia yang ngomel.

“Haha, iya bawel! Buruan!”, aku menutup telepon.

Andini, sahabat sejak masih mengenakan putih abu-abu. Sudah seperti adik perempuanku, maklum, aku anak perempuan satu-satunya, ketiga kakakku laki-laki.

Aku memutuskan tetap menikmati lagu yang diputar di radio. Aku membiarkan diriku untuk beradaptasi, membiasakan hal-hal tak terduga tentang kami, aku dan Fabian.

“Aku merindukanmu, Fabian”.

Unsent message.

-B-

Apa Saja

Kita dapat berbicara tentang apa saja, dimana saja.

Karena, kamu selalu punya tema tak terbatas yang bisa berkembang terlalu bebas.

Kita dapat bertukar cerita tanpa ada sekat yang dapat mengikat.

Suatu saat kita pernah bertukar cerita tentang malaikat, sedang keesokan harinya berubah menjadi sosok setan yang jahat.

Terkadang berperan menjadi manusia hebat, kemudian terlontar menjadi rakyat yang tidak dapat berbuat banyak.

Begitulah kita.

Dapat berperan menjadi apa saja, menulis cerita tentang apa saja.

 

-A-

Mimpi

Pagi ini aku terbangun karena dering telepon dari bos yang meminta untuk menemaninya meeting pagi ini. Mendadak, seperti biasa. Tapi telepon itu mampu membuyarkan percakapan kita -aku dan kamu-, yang sedang terjadi di mimpiku.

Entah apa yang membuatku larut dan mewujudkan sosokmu di alam bawah sadarku. Meski subuh, sebelum telepon itu berdering, aku sudah terjaga untuk menghadap-Nya. Dalam mimpiku, kita sedang berbicara tentang kisah-kisah yang pernah terlewat tapi tak terkonfirmasi.

Kamu ada secuil cerita yang entah bagaimana caranya menghilang begitu saja. Tanpa permisi, tanpa mempertanyakan kembali asa yang pernah ada. Menyerah dengan mudah. Kamu seperti serangkaian kata yang berhasil ditulis, tapi tak terbaca. Sederetan abjad yang berjajar tanpa makna. Apa memang seperti itu maumu?

Kamu pergi, seolah cuma kamu yang tersakiti. Setelah terucap janji yang katamu akan kamu perjuangkan, ternyata aku hanya melihat nadir dari harapan yang pernah kamu ejawantahkan. Seperti buih yang terpecah di batu karang. Serapuh itukah makna berjuang untukmu?

Namun, mimpi pagi ini membawa cerita baru. Kamu, yang biasanya tak pernah hadir meski lewat mimpi, perlahan datang, menepuk punggungku pelan. Mengajakku berjalan-jalan di bawah rinai hujan dan bercerita tentang apa saja. Kamu tampak tak seperti dulu, raut tegas terpancar di wajahmu. Hilang sudah ragu yang pernah hadir dulu. Kamu datang untuk mengonfirmasi atas rasa yang pernah kamu punya. Mempertanyakan kembali asa untuk bersama. Inikah jawaban atas semua doa yang didengar semesta?

 

-A-

 

 

 

Menyandar pada Jangkar

Seberapa kuat usahamu mempertahankan, dalam bahtera itu sudah muncul keretakan.

Yang tidak mampu aku tambal sulam, tidak bisa aku rekatkan.

Yang tidak ingin aku perbaiki, meski kamu mengingini.

Hanya tinggal menunggu waktu

untuk menghancurkannya dalam sesaat.

kamu terdiam, seolah tak terjadi apa-apa.

Pergi melenggang seenak udelmu.

Meninggalkan kami di sini. Sendiri.

Iya, kami.

Aku, istrimu.

Dan calon anak kita yang sedang kukandung!

Untuk apa jika aku bertahan seorang diri di dalam bahtera,

Sedangkan nahkodanya pun pergi dan menyandarkan jangkar.

Terpontang-panting di tengah lautan tanpa nahkoda. Aku tak sudi!

Sandarkan saja bahteranya.

Lalu aku akan pergi juga. Menyerah.

-B-

 

Delilah (2)

​Madu di tangan kananku dan racun di tangan kiriku. Ya, Madu, laptop kesayanganku. Karena ia yang mengantarkanku pada beragam pekerjaan. Menghasilkan sebuah mobil yang kubeli tanpa mencicil dan apartment di kawasan mewah.

Nah, sedangkan tangan kiriku menenteng sebuah minuman dari kedai kopi ternama. Satu-satunya minuman yang selalu ia pesan tiap kali kuajak ke tempat ini. Kusebut itu racun karena menyiksaku, tapi entah bagaimana aku menikmati siksaan ini. Setidaknya, minuman ini bisa mengingatkanku pada manisnya kenangan kami dulu.

Aku masuk ke sebuah ruangan dengan satu meja dan lima kursi. Proyektor terpasang rapi, siap untuk dipakai. Dua orang masuk ke sana, “Sebentar ya, tunggu Mas Dimas dulu,” kata salah satu di antaranya. “It’s okay, belum telat kok dari jadwal,” jawabku. Kami pun berjabat tangan dan berkenalan.

Harusnya hari ini aku datang berdua dengan rekan kerjaku. Tapi karena ada keperluan yang lain, kami pun sepakat aku datang sendiri. 

Lima menit berselang, gagang pintu bergerak. Ia masuk dan mata kami saling bertatap. Satu, dua, tiga detik tanpa kedip karena terpaku. Nafasku mendadak tersengal, tak beraturan. Ia pun demikian, tak bergerak dari depan pintu.

“Hai,” sapamu sambil mengulurkan tangan, “Dimas istrinya melahirkan tadi malam, jadi saya yang gantiin.”

“Oh ya,” balasku gugup sambil menjabat tangannya, “nggak masalah kok.”

Perempuan ini tak berubah sedikit pun. Tetap pandai menyembunyikan perasaannya saat di depan orang lain. Tapi sayangnya, semua itu akan meluap saat hanya berdua.

Satu jam berlalu, meeting pun berakhir. Hanya sisa kami berdua di ruangan, sambil membereskan barang-barang. “Kamu apa kabar?” pertanyaan itu terlontar hampir bersamaan dari mulut kami berdua.

“Baik, kamu kapan balik dari Singapore?”

“Been here for awhile kok, 5-6 bulan lah.” Damn! Ingin sekali kurengkuh tubuhnya. Tubuh yang sudah 2 tahun tak kulihat, pun kusentuh.

Sebelum beranjak pergi, kutempelkan sticky notes di atas laptopnya.
-S-